Blog

Asal Patung Merah Bagian ketiga

Paman terlihat celingak-celinguk seakan sedang mencari seseorang. “Itu, Bapak dicari,” kataku. Ayi Kaka sudah telanjur dikenal sebagai orang sakti. Sejumlah orang bersaksi mereka pernah melihat Ayi Kaka terbang, meluncur dengan kaki tak menyentuh tanah. Sewaktu masih bekerja di perusahaan minyak, Ayi Kaka diperdaya oleh seorang rekan bisnisnya hingga mendapat dakwaan penipuan. Entah bagaimana ceritanya, Ayi Kaka urung dibui. Dia tibatiba masuk rumah sakit karena masalah di ginjalnya.

Sejak saat itu, dia harus cuci darah secara berkala. “Kalau dia jadi dibui, pastilah Bapak yang sekarang berdiri di depan batu itu,” ujar bapak. Tiga orang bocah tampak menunjuknunjuk ke arah tempat kami duduk, lalu sesaat kemudian berlari-lari, mendaki tanah tinggi ke arah kami. “Saya kira sekarang Bapak tak bisa lagi menghindar. Barangkali Paman sudah lelah, ingin istirahat dan menjalani hari tuanya dengan tenang,” ucapku. “Pamanmu merusak ginjalnya sendiri waktu itu.

Sampai sekarang Bapak tidak tahu kenapa dia melakukan itu. Memang Bapak sempat ikut membiayai perawatannya, tapi tak lama. Setelah itu Bapak tidak tahu lagi. Karena dia terbukti sakit, orang yang menuntutnya mau tak mau harus setuju berdamai,” kata bapak. “Tapi aneh juga dia masih hidup sampai usianya sekarang,” ucapku menegaskan. Ayi Kaka kukira sudah berusia lebih dari 70 tahun. Tiga bocah itu terus mendaki, suara panggilan mereka terdengar sampai tempat kami duduk.

baca juga : http://twilight-melody.org/ketahui-nilai-ekonomis-dan-keuntungan-menggunakan-genset/

Di dekat patung batu merah itu sudah tidak ada orang. Kelompok Burung Hitam sudah selesai dengan nyanyian perangnya. Bila aku tetap bermukim di Lahamalo, pastilah aku menjadi bagian dari kelompok ini. Mungkin aku akan berada di posisi si kribo itu. Ayi Kaka dan yang lain rupanya sudah masuk ke rumah adat di mana orang-orang berkumpul untuk memulai musyawarah. Aku perhatikan patung batu merah itu, tak terjadi perubahan apa-apa, ia tetap tampak kecil dari kejauhan. Tidak seperti kata orang-orang yang bilang bahwa patung batu itu akan tampak demikian tinggi dan besar apabila dilihat dari kejauhan.

Makin mendekat, patung batu itu akan makin mengecil, hingga ke ukuran aslinya. Sesungguhnya patung batu merah itu nyaris tak membentuk sosok apa pun. Namun, konon kata orang, jika diperhatikan dari jarak tertentu, kita akan melihat patung itu dengan bermacammacam bentuk. Kadang sosok seorang tua berjanggut, kadang bentuk seekor harimau, kadang juga seperti sebatang pohon. Para tetua bilang, patung batu itu diturunkan dari angkasa pada suatu masa yang tak bisa dikira-kira. Dewa-dewa telah menurunkannya untuk menjaga Lahamalo dari bala dan bencana.

Juga memberi petunjuk pada kaum kami. Jika seseorang melihat patung batu merah itu berbentuk sosok atau makhluk tertentu, itu adalah pertanda yang harus diperhatikan, lantaran menyangkut nasib dan masa depan. Dahulu, kaum kami adalah kaum utama di pulau ini. Mereka adalah manusia-manusia terpilih. Namun para pendatang kemudian tiba, yang sebagiannya adalah pedagang, sebagiannya lagi pelarian. Mereka membentuk koloni, mengawini penduduk setempat, dan beranak pinak membangun permukimanpermukiman. Sekarang, kaum kami yang masih murni hanya bermukim di Lahamalo, kawasan paling timur pulau, diapit oleh laut dan perbukitan.

Berkembangnya kehidupan para pendatang, bukan hanya membuat persaingan merebut lahan kian keras, tapi lebih jauh lagi menimbulkan berbagai peperangan. Makin lama, jumlah kaum kami kian menyusut. Para tetua risau, Kepala Kaum juga risau. Lalu, pada suatu waktu, diadakanlah satu upacara besar. Saat itu mereka menyadari, sudah sekian lama mereka melupakan kehadiran patung batu merah di tengah-tengah mereka. Pada upacara besar tersebut, mereka menyembelih banyak hewan ternak untuk dijadikan persembahan bagi dewa-dewa. Kain hitam-putih dijahit dan disucikan, lantas dipergunakan untuk membungkus patung batu merah itu. Sekarang, kain itu dibuka lagi.